Sumbawa Besar, Merdekainsight.com — Inovasi pengelolaan sampah berbasis sekolah terus dikembangkan di Kabupaten Sumbawa. Sejak tahun 2018, Bank Sampah Kelompok Pemuda Berbagi bermitra dengan Bank Sampah Sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Sumbawa dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang terstruktur dan edukatif. Program ini menumbuhkan karakter peduli lingkungan sekaligus menanamkan jiwa kewirausahaan di kalangan siswa.
Direktur Bank Sampah Kelompok Pemuda Berbagi, Yerri Kuswandi, menjelaskan bahwa konsep bank sampah sekolah mulai diterapkan sejak tahun 2019 dengan melibatkan struktur organisasi lengkap seperti direktur, bendahara, sekretaris, koordinator, dan tim edukasi.
“Konsep ini memang terhitung unik karena sejak 2019 kami menghadapi banyak tantangan, mulai dari jumlah siswa, luas sekolah, sarana prasarana, hingga dukungan dari seluruh unsur sekolah,” ujar Yerri Kuswandi, Jumat (12/12/2025).
Setelah melalui proses panjang, sistem pengelolaan bank sampah sekolah di MTsN 1 Sumbawa kini semakin matang. Dukungan dari pihak sekolah, guru, dan siswa menjadi kunci keberhasilan dalam menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya pengelolaan sampah sejak dini.
“Alhamdulillah, sejak tahun 2023 konsep kami benar-benar terasa di lingkungan sekolah. Dari semboyan ‘dari siswa, melalui siswa, dan kembali ke siswa’, kini semua unsur sekolah terlibat aktif. Sekolah ikut membayar sampah ke nasabah, pembina upacara memberikan edukasi, dan kepala sekolah mendorong partisipasi guru,” jelasnya.
Bank sampah sekolah ini juga menerapkan sistem pelaporan yang transparan. Hasil penimbangan sampah dipajang di mading sekolah menggunakan sistem peringkat nasabah terbanyak. Proses penimbangan dilakukan oleh tim bank sampah bersama perwakilan siswa dari tiap kelas.
Siswa pun menunjukkan perubahan perilaku positif, seperti memilah dan membersihkan plastik sebelum disetor. Bahkan, kesadaran untuk mengumpulkan dan menukar sampah bernilai kini tumbuh tanpa arahan langsung dari guru.
Dalam satu semester terakhir, total sampah bernilai yang terkumpul mencapai 492 kilogram. Dari jumlah tersebut, kelas 9 menjadi penyumbang terbesar dengan 208 kilogram, disusul kelas 8 sebanyak 149 kilogram, dan kelas 7 sebanyak 135 kilogram. Seluruh sistem pencatatan dan pelaporan dirancang oleh tim Bank Sampah Kelompok Pemuda Berbagi.
“Kami berharap dari konsep bank sampah sekolah ini lahir generasi Sumbawa yang berjiwa usaha dan benar-benar peduli terhadap lingkungan. Mereka bukan hanya belajar memilah sampah, tetapi juga belajar tanggung jawab, kerja sama, dan nilai ekonomi dari kebersihan,” tutup Yerri Kuswandi.












Comment