OPINI
Home / OPINI / Pemilu dan Budaya Lokal: Membangun Demokrasi Melalui Kearifan Tradisi di Nusa Tenggara Barat

Pemilu dan Budaya Lokal: Membangun Demokrasi Melalui Kearifan Tradisi di Nusa Tenggara Barat

Oleh: Rahmad Ramdani

Pemilihan Umum (Pemilu) bukan sekadar proses politik untuk memilih pemimpin, tetapi juga cerminan dan pembentuk budaya suatu bangsa. Di Indonesia sebuah negara yang kaya akan keragaman budaya hubungan antara pemilu dan budaya lokal menjadi sangat kompleks, dinamis, dan menarik untuk dikaji lebih dalam.

Mengintegrasikan sosialisasi pemilu ke dalam denyut nadi budaya lokal, seperti melalui musyawarah adat, pertunjukan seni, dan praktik tradisional masyarakat, bukan hanya meningkatkan partisipasi publik, tetapi juga memperkuat akar demokrasi yang tumbuh dari nilai-nilai lokal. Budaya bukan sekadar ornamen atau pelengkap, melainkan fondasi penting dalam kehidupan sosial masyarakat.

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi contoh konkret mozaik budaya yang hidup dan beragam. Di wilayah ini, suku Sasak di Pulau Lombok, serta suku Samawa dan Mbojo di Pulau Sumbawa, masih memegang teguh tradisi, adat istiadat, dan nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Kekayaan budaya ini bukan hanya patut dilestarikan, tetapi juga perlu diberdayakan sebagai medium dalam memperkuat praktik berdemokrasi yang membumi.

Namun demikian, semangat demokrasi yang tercermin dari partisipasi pemilih mengalami penurunan. Pada Pemilu Serentak 2024, tingkat partisipasi pemilih di NTB mencapai 82,40%. Namun, pada Pilkada 2024, angka tersebut menurun menjadi 72% (data KPU Sumbawa). Penurunan signifikan ini menjadi catatan serius sekaligus tantangan besar bagi seluruh elemen, terutama penyelenggara pemilu seperti KPU dan Bawaslu.

Refleksi Pilkada Langsung: Antara Romantisme Demokrasi dan Fakta Sosial

Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap penurunan partisipasi ini antara lain Pertama Political fatigue; kejenuhan masyarakat terhadap dinamika politik yang sering diwarnai intrik dan konflik, bukan pada substansi dan solusi, Kedua Apatisme social; kekecewaan atas janji-janji politik yang tidak terealisasi, yang pada akhirnya mengikis kepercayaan masyarakat terhadap proses politi, Ketiga Perubahan prioritas hidup; banyak warga mulai fokus pada isu-isu ekonomi dan sosial yang dianggap lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari dan Ke Empat Kurangnya efektivitas sosialisasi; meskipun berbagai pihak telah melakukan sosialisasi, pendekatan yang digunakan belum menjangkau semua lapisan masyarakat, terutama di wilayah terpencil dan pedesaan.

Untuk menjawab tantangan ini, diperlukan pendekatan baru yang lebih kontekstual dan membumi. Sosialisasi pemilu tidak cukup hanya dilakukan melalui cara-cara formal seperti baliho, media sosial, atau kampanye konvensional. Justru, pendekatan berbasis budaya lokal dapat menjadi jembatan yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan demokrasi secara emosional dan kultural.

Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki kekayaan budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana strategis untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi pemilih. Berbagai tradisi lokal seperti Sakeco, Malangko, dan Bakilung dalam tradisi Sumbawa; Pepaosan, Berugak/Berembuk, Kenduri, dan Gendang Beleq dalam tradisi Sasak; serta Dana Mbojo, Kabungka, Sarembou, Hadrah, Rimpu, dan Kampu dalam tradisi Mbojo, mencerminkan nilai-nilai luhur yang hidup dalam masyarakat.

Tradisi-tradisi Sasambo (Sasak, Samawa, dan Mbojo) ini bukan hanya bentuk ekspresi seni dan budaya semata, tetapi juga berfungsi sebagai media komunikasi sosial yang kaya akan pesan moral, pendidikan, serta kritik yang membangun. Dengan pendekatan yang tepat, kekayaan budaya ini dapat dijadikan instrumen yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan demokrasi dan membangun kesadaran politik masyarakat secara partisipatif.

Pertunjukan-pertunjukan tersebut memiliki kekuatan untuk menyentuh hati masyarakat tanpa terkesan menggurui. Di tengah arus modernisasi, masyarakat di pedesaan Sumbawa dan wilayah lainnya masih sangat menghargai tradisi-tradisi ini. Pertunjukan yang sering digelar pada malam hari atau di sela-sela acara adat menjadi ruang strategis untuk menyampaikan pesan-pesan pemilu dan pentingnya demokrasi secara alami dan kontekstual.

Konservasi Sumbawa dan Ancaman Bencana Ekologis

Memanfaatkan kesenian seperti Sakeco dan Bakilung sebagai media sosialisasi bukan hanya pendekatan yang kreatif, tetapi juga strategi jemput bola yang berakar pada nilai-nilai lokal. Ini adalah cara untuk menyampaikan makna demokrasi melalui bahasa yang akrab, dirasakan, dan dihormati oleh masyarakat.

Demokrasi tidak hanya dibangun dari prosedur formal, tetapi juga dari kesadaran, partisipasi, dan keberpihakan terhadap nilai-nilai lokal. Di NTB, budaya bukan sekadar warisan, tetapi potensi yang hidup dan tumbuh bersama masyarakat. Dengan mengintegrasikan pemilu ke dalam ruang-ruang budaya lokal, kita tidak hanya memperluas jangkauan sosialisasi, tetapi juga memperkuat fondasi demokrasi yang lebih inklusif, kontekstual, dan berakar pada identitas bangsa.

Comment

  1. Jauhari Andi says:

    Mantap bang Mantum, Keren.👍👍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page