OPINI
Home / OPINI / Satu Kebijakan Satu Riset: Mengawal Pembangunan Daerah yang Tepat Sasaran

Satu Kebijakan Satu Riset: Mengawal Pembangunan Daerah yang Tepat Sasaran

Oleh: Dr. Muammar Khadafie, M.Pd.I

(Direktur dan Peneliti Maras Institut)

Pembangunan daerah yang berkelanjutan tidak bisa lahir dari kebijakan yang hanya berlandaskan asumsi atau selera politik sesaat. Ia harus berdiri di atas fondasi yang kokoh: data, analisis, dan temuan ilmiah.

Inilah yang melandasi dukungan penuh terhadap program strategis Satu Kebijakan Satu Riset yang kini diintegrasikan melalui Sistem Informasi Riset Daerah (SIRDA).

Selama ini, banyak kebijakan daerah yang gagal karena dirancang tanpa peta realitas yang akurat. Anggaran habis, program tak berdampak, dan masyarakat kembali menanggung akibatnya. Di tengah keterbatasan sumber daya, setiap kebijakan publik seharusnya melewati proses evidence-based policy—pengambilan keputusan berbasis bukti.

Refleksi Pilkada Langsung: Antara Romantisme Demokrasi dan Fakta Sosial

SIRDA adalah jembatan antara laboratorium ide dan meja pengambilan keputusan, menghubungkan peneliti, birokrat, dan publik dalam satu ekosistem pengetahuan yang terbuka.

Riset sebagai Nyawa Kebijakan

Riset bukan sekadar rutinitas akademik. Ia adalah instrumen vital untuk memahami realitas dan merancang langkah. Seperti dokter yang memeriksa pasien sebelum memberi resep, pemerintah daerah harus menguji kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan sebelum mengambil kebijakan.

Tanpa riset, kebijakan menjadi trial and error yang mahal. Misalnya, program pertanian yang gagal panen karena tidak mempertimbangkan pola musim lokal. Atau kebijakan pendidikan yang mengabaikan distribusi guru dan kebutuhan kompetensi abad 21.

Melalui Satu Kebijakan Satu Riset, setiap kebijakan wajib memiliki basis kajian yang jelas, indikator terukur, dan proyeksi dampak realistis.

Konservasi Sumbawa dan Ancaman Bencana Ekologis

SIRDA: Gudang Pengetahuan Hidup

Keunggulan SIRDA adalah kemampuannya mengumpulkan dan mengintegrasikan hasil riset dari universitas, lembaga penelitian, dan organisasi masyarakat sipil dalam satu wadah yang dapat diakses pembuat kebijakan.

Selama ini, hasil penelitian daerah cenderung tercecer: tesis mahasiswa, laporan penelitian dosen, atau kajian LSM hanya berakhir di rak perpustakaan. SIRDA mengubahnya menjadi bank pengetahuan hidup yang siap digunakan kapan saja.

Tak hanya itu, SIRDA juga menghindarkan duplikasi penelitian. Peneliti dapat melihat apa yang sudah dikaji, menemukan celah riset, dan berkolaborasi lintas bidang. Pemerintah pun dapat langsung mencari referensi kebijakan yang relevan, menghemat waktu dan sumber daya.

Menghindari Kebijakan “Bersayap Slogan”

Forum Pemuda Pesisir Desak Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran Hukum oleh PT NTT Kuri Pearl

Birokrasi kita punya penyakit lama: kebijakan yang indah di spanduk, tapi hampa di lapangan. Ini terjadi karena gagasan besar tidak diiringi rancangan teknis yang matang.

Riset memberi daya tahan pada kebijakan. Ia menguji kelayakan, mengukur risiko, dan memprediksi dampak jangka panjang. Dengan Satu Kebijakan Satu Riset, kebijakan dipaksa keluar dari zona nyaman politik seremonial menuju rencana kerja yang terukur.

Dari Data ke Keputusan

Namun, data dan riset tidak otomatis menghasilkan kebijakan berkualitas. Ada tahapan penting: penerjemahan data menjadi keputusan yang aplikatif.

SIRDA hanya akan efektif jika ada analis kebijakan yang mumpuni, mampu menyaring informasi, dan mengubah temuan riset menjadi rekomendasi yang jelas. Lebih penting lagi, harus ada budaya birokrasi yang menghargai suara peneliti, bahkan ketika temuannya tidak populer secara politik.

Transparansi dan Akuntabilitas

Kebijakan berbasis riset juga memperkuat akuntabilitas publik. Ketika basis data dan alasan di balik kebijakan terbuka, masyarakat bisa ikut mengawasi dan menilai kesesuaiannya dengan kebutuhan nyata.

Keterbukaan ini penting untuk mencegah pemborosan anggaran. Pemerintah dapat mempertahankan kebijakannya dengan argumentasi yang kuat, sementara masyarakat dapat memberi masukan yang konstruktif.

Tantangan Implementasi

Ada tiga tantangan utama dalam menjalankan Satu Kebijakan Satu Riset. Pertama, memastikan ketersediaan data yang valid dan mutakhir. Kedua, meningkatkan kapasitas SDM peneliti dan pejabat daerah. Ketiga, menjaga komitmen politik lintas periode agar program ini tidak terhenti di tengah jalan.

Selain itu, infrastruktur digital menjadi faktor penentu keberhasilan SIRDA. Akses internet, keamanan data, dan koordinasi antar lembaga adalah pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.

Menjadi Budaya, Bukan Sekadar Program

Saya memandang Satu Kebijakan Satu Riset bukan hanya inovasi birokrasi, tetapi investasi jangka panjang. Ia membangun kultur baru: kebijakan berbasis pengetahuan, bukan intuisi sesaat.

Di Kabupaten Sumbawa Barat, semangat ini sejalan dengan visi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Sebagai Direktur Maras Institut, dan Anggota Dewan Riset Daerah, saya melihat SIRDA sebagai ruang emas bagi peneliti lokal untuk berkontribusi nyata.

Pembangunan bukan hanya tanggung jawab politisi atau birokrat, melainkan kolaborasi seluruh elemen: peneliti, pendidik, pelaku usaha, dan masyarakat sipil. Dengan riset sebagai dasar, kita memastikan setiap kebijakan berdiri di atas landasan yang kokoh.

Penutup

Kita tidak boleh lagi membiarkan kebijakan lahir dari ruang hampa. Di era keterbukaan informasi, rakyat berhak mendapat keputusan yang berbasis bukti, bukan janji.

SIRDA dan Satu Kebijakan Satu Riset memberi kita kesempatan membangun daerah yang cerdas dan berkelanjutan. Tantangannya kini adalah memastikan program ini menjadi budaya kerja pemerintahan, bukan sekadar proyek teknologi.

Jika itu terwujud, setiap rupiah yang dibelanjakan, setiap program yang dijalankan, dan setiap kebijakan yang diambil akan menjadi langkah pasti menuju kesejahteraan rakyat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page