OPINI
Home / OPINI / Menggali Kekayaan, Mengubur Masa Depan: Sebuah Pelajaran dari Jared Diamond

Menggali Kekayaan, Mengubur Masa Depan: Sebuah Pelajaran dari Jared Diamond

Oleh: Sendi Akramullah

Di Selatan Sumbawa, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) bersiap membuka Blok Elang–Dodo–Rinti. Seolah tambang Batu Hijau yang sudah menganga belum cukup, konsesi baru ini diproyeksikan menyimpan cadangan tembaga dan emas jutaan ton. Namun setiap gram logam yang terangkat dari kedalaman selalu punya harga yang tak tertulis—harga yang sering kali dibayar dengan hutan yang gundul, sungai yang keruh, dan tanah yang kehilangan daya hidupnya.

Jika kita membaca sejarah seperti dibedah Jared Diamond dalam Collapse, nasib peradaban sering diputuskan oleh satu keputusan sederhana: bagaimana mereka memperlakukan lingkungannya. Bangsa Viking di Greenland gagal karena membabat habis hutan untuk memanaskan besi dan membangun kapal, sementara masyarakat Pulau Tikopia di Pasifik bertahan karena dengan sadar membatasi populasi dan menebang pohon sesuai kemampuan pulih alam. Sumbawa kini berada di simpang jalan yang sama.

Di Batu Hijau, AMNT sudah meninggalkan jejak yang bisa kita ukur. Pembuangan limbah tambang ke laut dalam (Deep Sea Tailings Placement/DSTP) tercatat mencapai jutaan ton per tahun.

Meski diklaim “aman”, penelitian independen menunjukkan peningkatan logam berat di sedimen Teluk Senunu dan menurunnya keanekaragaman biota laut. Hutan di sekitar tambang menyusut, dan aliran sungai kecil yang dahulu jernih kini musiman, penuh endapan lumpur. Jika pola ini berulang di Blok Elang–Dodo–Rinti—wilayah berhutan lebat dan menjadi tangkapan air utama bagi desa-desa sekitar—kerusakan ekologis hanya soal waktu.

Refleksi Pilkada Langsung: Antara Romantisme Demokrasi dan Fakta Sosial

Ironisnya, publik tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dikerjakan AMNT. Detail studi kelayakan (DFS) jarang diumumkan, konsultasi publik sering formalitas, dan informasi teknis cenderung terkunci di balik pintu rapat berpendingin udara. Kita diminta percaya pada jargon “teknologi ramah lingkungan” sambil menutup mata pada risiko nyata di lapangan.

Ini mengingatkan kita pada kisah dalam Guns, Germs, and Steel tentang bagaimana segelintir kekuatan teknologi bisa menguasai sumber daya dan membungkam suara masyarakat lokal—bukan karena masyarakat itu bodoh, tetapi karena akses pengetahuan sengaja dipersempit.

Dalam The World Until Yesterday, Diamond menggambarkan bagaimana masyarakat tradisional memiliki kearifan menjaga ekosistem: hutan dianggap kerabat, sungai adalah bagian dari tubuh. Jika prinsip ini dilupakan, kita akan membayar mahal. Seperti pepatah kuno yang berbunyi, “Ketika pohon terakhir ditebang, ketika ikan terakhir ditangkap, barulah kita sadar bahwa kita tidak bisa memakan uang.”

Sumbawa kini berhadapan dengan pepatah itu, bukan sekadar kata-kata.

Pertanyaannya sederhana tapi mendesak: apakah kita akan mengulang kesalahan peradaban yang runtuh karena keserakahan, atau memilih jalan yang lebih bijak dengan menuntut transparansi, tata kelola yang ketat, dan keberpihakan pada daya dukung alam? Pilihan ini bukan sekadar milik pemerintah atau korporasi. Ini adalah ujian bagi seluruh masyarakat Sumbawa—apakah kita akan mewariskan tanah yang subur untuk anak cucu, atau sekadar meninggalkan lubang menganga yang mengilap sesaat tapi mematikan selamanya.

Konservasi Sumbawa dan Ancaman Bencana Ekologis

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page