Oleh: Dr. Muammar Khadafie, M.Pd.I
(Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UTS)
Dalam pidatonya di Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Agustus 2025, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa rendahnya gaji guru dan dosen merupakan tantangan bagi keuangan negara. Ia mempertanyakan apakah seluruh pembiayaan untuk profesi ini harus ditanggung oleh negara atau dapat melibatkan partisipasi masyarakat. Pernyataan ini memicu kontroversi dan menimbulkan pertanyaan mendalam tentang pandangan negara terhadap profesi guru.
Bung Karno pernah menegaskan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai guru dan kaum pendidiknya. Tanpa guru, kita hanya akan menjadi bangsa yang kehilangan arah.” Pernyataan ini menegaskan bahwa guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penjaga peradaban bangsa. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang membentuk karakter dan masa depan generasi muda.
Guru dalam Bingkai Anggaran dan Realitas Sosial
Secara fiskal, memang benar bahwa belanja pegawai, termasuk gaji guru, menyerap porsi besar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, melihat guru hanya sebagai pos anggaran sama artinya dengan menafikan kontribusi mereka terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia. Anggaran pendidikan, termasuk gaji guru, harus dilihat sebagai investasi jangka panjang, bukan beban jangka pendek.
Guru tidak menghasilkan produk instan yang bisa langsung dihitung dalam angka-angka Produk Domestik Bruto (PDB). Mereka menanam benih nilai, ilmu, dan karakter yang baru akan dipanen puluhan tahun kemudian. Jika guru dipandang beban, maka pendidikan hanya akan menjadi urusan hitungan biaya, bukan perjuangan membangun peradaban.
Guru sebagai Penjaga Peradaban
Sejarah membuktikan bahwa setiap peradaban besar lahir dari tangan para pendidik. Socrates di Yunani kuno, Imam Al-Ghazali dalam tradisi Islam, hingga Ki Hajar Dewantara di Indonesia, semuanya menunjukkan bahwa guru adalah fondasi yang menopang arah kebudayaan.
Guru bukan sekadar pengajar materi, melainkan penggerak nilai. Di kelas-kelas sederhana, guru menanamkan disiplin, kejujuran, dan semangat kebangsaan. Mereka tidak hanya menyalurkan pengetahuan, tetapi juga membangun karakter kolektif. Dalam konteks Indonesia yang plural, guru berperan sebagai penenun harmoni sosial sekaligus benteng moral dari penetrasi budaya instan.
Menganggap guru sebagai “beban” sama saja dengan menutup mata terhadap peran strategis mereka. Seperti Bung Karno menegaskan, “Guru adalah penjaga obor peradaban; bila obor itu padam, maka gelaplah jalan bangsa.”
Paradigma Investasi, Bukan Beban
Sri Mulyani tentu berbicara dalam perspektif akuntansi negara: bahwa anggaran harus efisien dan terkendali. Namun, pernyataan tersebut harus diluruskan dengan paradigma yang lebih bijaksana. Guru bukanlah beban, melainkan modal utama bangsa. Anggaran untuk guru bukanlah cost, melainkan investment.
Mari kita bayangkan: jika gaji guru ditekan, kualitas hidup mereka akan merosot, motivasi mengajar akan melemah, dan pada akhirnya kualitas pendidikan bangsa akan turun. Apakah kita rela membayar murah penjaga peradaban, sementara kita menggelontorkan dana besar untuk proyek infrastruktur yang kerap mangkrak?
Mengembalikan Marwah Guru
Opini publik terhadap guru seringkali paradoksal. Di satu sisi, mereka diagungkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Di sisi lain, mereka dipersempit sekadar angka dalam beban fiskal. Inilah yang harus diubah. Pemerintah harus menempatkan guru dalam posisi terhormat, bukan hanya dalam retorika, tetapi juga dalam kebijakan nyata.
Kesejahteraan guru harus dijamin, bukan karena belas kasihan negara, melainkan karena kesadaran bahwa mereka adalah penentu kualitas generasi. Investasi pada guru adalah investasi pada masa depan bangsa. Guru yang bermartabat akan melahirkan murid-murid yang berkarakter, cerdas, dan siap bersaing di era global.
Penutup
Pernyataan Sri Mulyani tentang guru sebagai beban negara seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua. Apakah bangsa ini masih menempatkan guru pada posisi strategis sebagai penjaga peradaban, atau sekadar menempatkannya sebagai angka di neraca keuangan?
Bangsa besar tidak akan pernah melihat guru sebagai beban. Mereka adalah cahaya yang menuntun generasi, sekaligus benteng yang menjaga bangsa dari kegelapan kebodohan dan kemerosotan moral. Jika negara ingin maju, maka jangan pernah menakar guru dengan logika beban, tetapi pandanglah mereka sebagai investasi abadi bangsa.
Guru bukan beban, guru adalah penjaga peradaban.












Comment