Sumbawa Besar, Merdekainsight.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sumbawa memperkuat Program Apresiasi Nilai Budaya untuk melestarikan dan mengenalkan kembali adat, seni, sejarah, dan tradisi lokal kepada generasi muda. Program ini telah berjalan dan telah di perkuat dg perbup no 33 tahun 2021 ttg pendidikan karakter yg di integrasikan dg nilai lokal serta sdh mencakup berbagai kegiatan budaya yang menyentuh seluruh aspek kebudayaan Sumbawa. Apresiasi nilai budaya ini juga merupakan salah satu program strategis bupati Sumbawa
Menurut Sekretaris Disdikbud Sumbawa, Sudarli, S.Pt., M.Si, program ini menitikberatkan pada objek pemajuan kebudayaan, termasuk sejarah tradisional, adat istiadat, permainan rakyat, serta seni budaya.
“Program apresiasi nilai budaya sudah berjalan.namun Melalui kegiatan ini, kami berfokus pada pelestarian sejarah, adat, dan seni budaya khas Sumbawa, khususnya bagi generasi muda,” ujarnya pada Kamis (30/10/2025).
Pelaksanaan program dilakukan melalui perlombaan budaya, seperti lawas, batutir, sakeco, dan seni menggambar dengan sastra jontal, yang telah dihidupkan kembali. Kegiatan ini sudah mencapai tingkat provinsi dan akan mewakili Provinsi NTB ke kancah nasional.
Selain itu, Kabupaten Sumbawa juga berpartisipasi dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), yang menampilkan berbagai seni dan budaya lokal, termasuk bahasa daerah, sastra, dan kesenian tradisional. Melalui FTBI, generasi muda Sumbawa dapat memperkenalkan kekayaan budaya lokal ke tingkat nasional, sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
Disdikbud menjalin kerja sama dengan Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS) untuk memastikan pelestarian adat dan tradisi, seperti nyorong, barodak, serta pemosisian penggunaan baju adat Sumbawa yang benar, diantaranya termasuk sapu sebagai penutup kepala tradisional. Anak-anak juga diperkenalkan dengan alat musik tradisional, seperti serunai, rabana, santong srek agar kecintaan terhadap seni musik lokal tetap terjaga.
Upaya pelestarian nilai adat diantaranya adalah Basrakal menjadi bagian penting dari program ini. Tradisi Basrakal biasanya muncul dalam kegiatan adat masyarakat Sumbawa, seperti sunatan, barodak, dan acara adat lainnya. Namun, tradisi ini hampir terputus di generasi muda, karena orang tua maupun anak-anak jarang tertarik mempraktikkannya.
“Untuk mengembalikan minat terhadap Basrakal, kami mengadakan lomba Basrakal di tingkat sekolah. Hasilnya luar biasa, kini anak-anak kembali tertarik mempelajari dan memainkan Basrakal, sehingga tradisi ini mulai hidup kembali di tengah masyarakat,” tambah Sudarli.
Selain itu, Disdikbud aktif melakukan pendataan dan pendaftaran cagar budaya. Saat ini, sebanyak 24 cagar budaya telah mendapatkan SK resmi, sementara 7 lainnya masih dalam proses pengajuan ke Tim Direktorat Cagar Budaya, sebagai upaya formal untuk melindungi warisan budaya Sumbawa.
Sebagai bahan ajar dalam mata pelajaran muatan lokal Dikbud telah menerbitkan buku muatan lokal, yang memuat sejarah, adat istiadat, pakaian adat, alat musik tradisional, dan cagar budaya dan lainya. Buku ini diterapkan dalam kurikulum pendidikan karakter di sekolah, agar generasi muda tidak hanya mengenal, tetapi juga mempraktikkan dan mencintai warisan budaya Sumbawa.
“Melalui seluruh upaya ini, kami berharap anak-anak Sumbawa tumbuh dengan kesadaran dan kecintaan terhadap budaya lokal, serta mampu melestarikan tradisi yang menjadi identitas daerah,” pungkas Sudarli.












Comment