Pemerintahan
Home / Pemerintahan / Bupati Jarot Kembangkan Konsep “ATM Hijau” sebagai Inovasi Ekonomi-Konservasi di Sumbawa

Bupati Jarot Kembangkan Konsep “ATM Hijau” sebagai Inovasi Ekonomi-Konservasi di Sumbawa

Sumbawa Besar, Merdekainsight.com — Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., memperkenalkan konsep “ATM Hijau” sebagai inovasi pembangunan yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan konservasi lingkungan. Konsep ini menjadi strategi baru Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam menciptakan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan keberlanjutan alam.

Dalam keterangannya di ruang kerja pada Selasa (11/11/2025), Bupati Jarot menjelaskan bahwa ATM Hijau tidak hanya sebatas penanaman pohon, melainkan sistem ekonomi berbasis ekosistem yang memberi manfaat jangka panjang bagi petani.

“Prinsipnya sederhana, bagaimana petani bisa menabung dari alam tanpa merusak alam itu sendiri,” ujarnya. “Melalui penanaman pohon bernilai ekonomi seperti kemiri dan sengon laut, mereka punya sumber pendapatan jangka panjang yang sekaligus menjaga kelestarian hutan.”

Sebagai contoh, Bupati Jarot menuturkan hasil nyata yang sudah mulai terlihat di beberapa wilayah. Di Kecamatan Lantung, petani bernama Hamzah menanam 700 pohon kemiri di lahan perbukitan. Dalam waktu lima hingga enam tahun, kebun tersebut diproyeksikan menghasilkan hingga Rp700 juta per tahun tanpa merusak ekosistem sekitar.

“Ini contoh konkret bahwa konservasi bisa menjadi sumber ekonomi. Dengan kemiri, petani tidak hanya menanam pohon, tapi juga menanam kesejahteraan,” jelasnya.

Ketua Komisi II DPRD Sumbawa: Hentikan Target PAD dari Data yang Tak Riil!

Sementara di wilayah dataran rendah, pohon sengon laut menjadi pilihan alternatif. Selain memperbaiki struktur tanah, sengon memiliki nilai jual tinggi dalam industri kayu. “Sengon laut ibarat tabungan jangka menengah. Kalau butuh uang, tinggal dijual. Nilainya bisa mencapai Rp200 juta per hektare pada tahun kelima,” ungkap Bupati Jarot.

Menurutnya, ATM Hijau adalah model ekonomi yang adaptif terhadap perubahan iklim. Pohon-pohon yang ditanam tidak hanya menyimpan karbon dan menjaga sumber air, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi tanpa menambah beban lingkungan.

Bupati Jarot menegaskan, keberhasilan konsep ini membutuhkan dukungan lintas sektor, terutama dalam penyediaan bibit, pendampingan teknis, dan perlindungan lahan. “Menanam tanpa pagar sama dengan membuang garam ke laut. Karena itu, kita harus pastikan setiap bibit yang ditanam bisa hidup dan memberi manfaat,” ujarnya.

Ia menutup dengan pesan agar masyarakat melihat hutan dan lahan bukan hanya sebagai ruang ekonomi, tetapi sebagai mitra hidup. “Setiap batang pohon adalah sumber penghasilan, sekaligus penyangga kehidupan. Inilah makna sebenarnya dari ATM Hijau yang ingin kita wujudkan di Sumbawa,” pungkasnya.

Cadangan Beras Pemerintah Daerah Sumbawa Masih di Bawah Kebutuhan Renstra 2026

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page