Sumbawa Besar, Merdekainsight.com – Cakupan imunisasi dasar lengkap di Kabupaten Sumbawa mengalami penurunan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan (Dikes) kini mendorong percepatan program imunisasi dengan memperkenalkan vaksin Heksavalen sebagai langkah strategis melindungi anak dari enam penyakit berbahaya sekaligus.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Syarif Hidayat, SKM., MPH, mengungkapkan bahwa imunisasi Heksavalen merupakan vaksin kombinasi yang mampu memberikan perlindungan terhadap difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, polio, dan Haemophilus influenzae tipe B. Vaksin ini diberikan kepada bayi berusia 2, 3, dan 4 bulan.
“Imunisasi Heksavalen sangat penting karena dapat mengurangi jumlah suntikan yang diterima bayi, memudahkan orang tua menuntaskan imunisasi dasar, dan meningkatkan cakupan perlindungan terhadap enam penyakit sekaligus,” ujar Syarif Hidayat, Selasa (18/11/2025).
Ia menjelaskan, meskipun manfaat imunisasi sangat besar, capaian pelaksanaan di Sumbawa justru menunjukkan tren penurunan. Pada 2023, cakupan imunisasi dasar lengkap mencapai 89,5 persen, turun menjadi 70,7 persen pada 2024, dan hingga Oktober 2025 baru mencapai 56,8 persen. Angka ini masih jauh dari target nasional sebesar 95 persen.
“Jika cakupan ini tidak segera ditingkatkan, maka risiko anak-anak terpapar penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi akan semakin besar,” tegasnya.
Menurutnya, imunisasi dasar lengkap juga memiliki peran penting dalam upaya eliminasi penyakit menular seperti Tuberkulosis (TBC). Ia menyebut, pencegahan sejak dini melalui imunisasi merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030.
“Penyakit seperti TBC dapat dicegah melalui imunisasi. Karena itu, mempercepat cakupan imunisasi adalah langkah yang tidak bisa ditunda,” katanya.
Selain itu, Syarif menegaskan keterkaitan antara imunisasi dan upaya pencegahan stunting. Anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap lebih berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang.
“Memastikan setiap anak menerima imunisasi sesuai jadwal merupakan salah satu bentuk nyata pencegahan stunting,” jelasnya.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam program imunisasi dan berperan melawan disinformasi yang beredar. Syarif menekankan bahwa keberhasilan program imunisasi membutuhkan dukungan semua pihak, mulai dari keluarga, tokoh masyarakat, hingga tenaga kesehatan di lapangan.
“Imunisasi telah terbukti efektif melindungi masyarakat dari penyakit berbahaya. Ini tanggung jawab bersama, dan kami berharap setiap desa dapat meningkatkan cakupan imunisasinya secara maksimal,” tutupnya.












Comment