Oleh : Suhra Wardin (Ketua Umum HMI Komisariat Elang Muda-UTS)
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan salah satu organisasi mahasiswa islam tertua dan berpengaruh dalam sejarah pergerakan intelektual dan sosial di Indonesia. Berdiri pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta oleh Lafran Pane bersama 14 mahasiswa Sekolah Tinggi Islam, HMI lahir dari semangat zaman yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan. Sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul dalam bukunya Sejarah Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (1947–1975), kelahiran HMI bukan hanya gerakan keagamaan, tetapi juga gerakan kebangsaan dan keilmuan yang menegaskan peran mahasiswa Islam dalam membangun bangsa. Pada masa awal kemerdekaan, HMI hadir sebagai respon terhadap dua arus besar: sekularisme yang ingin memisahkan agama dari kehidupan publik dan komunisme yang menolak eksistensi agama dalam ideologi negara. Maka, semangat awal HMI ialah menjadikan Islam sebagai sumber nilai dan etika dalam pembangunan manusia Indonesia yang berdaulat, cerdas, dan berakhlak.
Sejak didirikan, HMI membawa semangat trilogi perjuangan yakni keislaman, keindonesiaan, dan kemahasiswaan yang terus diperjuangkan hingga kini. Semangat tersebut menjadi dasar dari tujuan HMI sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar Pasal 4, yaitu “terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.” Rumusan ini tidak hanya menunjukkan arah gerak organisasi, tetapi juga menggambarkan cita-cita luhur untuk melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan beramal serta berjiwa sosial. Dalam pandangan Said Muniruddin melalui bukunya Bintang Arasy, tujuan HMI bersifat spiritual sekaligus intelektual, yakni upaya membentuk manusia yang sadar akan peran keilmuannya sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Tuhan dan sesama manusia. Di sinilah kekhasan HMI dibanding organisasi mahasiswa lainnya: perpaduan antara idealisme Islam dan tanggung jawab kebangsaan.
Perjalanan HMI tidak selalu berjalan mulus. Dalam dinamika sejarah, HMI pernah menghadapi tekanan politik yang hampir mengguncang eksistensinya. Dalam karya A. Dahlan Ranuwihardjo berjudul Bung Karno dan HMI dalam Pergulatan Sejarah, diceritakan bagaimana di masa demokrasi terpimpin, HMI dituduh sebagai ancaman ideologis dan sempat akan dibubarkan oleh kekuatan politik kiri. Namun, Presiden Soekarno akhirnya menolak usulan pembubaran tersebut karena melihat HMI sebagai wadah pembinaan mahasiswa Islam yang konstruktif bagi bangsa. Keputusan ini menjadi bukti bahwa HMI memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan mahasiswa Indonesia, bukan sebagai alat politik, melainkan sebagai kekuatan moral dan intelektual bangsa. Semangat perjuangan yang ditunjukkan HMI di masa itu menegaskan bahwa organisasi ini lahir dari cita-cita luhur, bukan kepentingan kekuasaan.
Dalam konteks zaman modern, peran HMI tetap relevan, bahkan semakin dibutuhkan. Buku HMI Menjawab Tantangan Zaman karya Sulastomo, Moerdiono, dan A. Dahlan Ranuwihardjo menegaskan bahwa organisasi ini harus adaptif terhadap perubahan global seperti modernisasi, demokratisasi, dan perkembangan teknologi informasi. HMI diharapkan tidak kehilangan jati diri sebagai wadah pembinaan intelektual dan moral di tengah derasnya arus pragmatisme politik dan budaya digital yang cenderung dangkal. Tantangan terbesar HMI hari ini bukan lagi mempertahankan eksistensi fisik, tetapi menjaga substansi nilai dan kualitas kaderisasi agar tetap melahirkan generasi intelektual yang berintegritas, progresif, dan berjiwa sosial.
Sebagai organisasi kader, HMI memiliki kedudukan strategis dalam membina mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan kognitif, keterampilan, minat, dan kemampuan berpikir kritis. Proses kaderisasi HMI tidak hanya menekankan aspek keagamaan, tetapi juga penguatan logika berpikir, kemampuan analitis, kepemimpinan, dan kepekaan sosial. Dalam proses inilah mahasiswa dibentuk menjadi insan akademis dan kreatif yang siap mengabdi. HMI memberi ruang bagi kadernya untuk berlatih berpikir ilmiah, berdebat dengan argumentatif, serta mengasah kemampuan berorganisasi dan komunikasi. Pembinaan ini selaras dengan konsep “insan cita” yang digagas oleh HMI yakni sosok manusia paripurna yang mengintegrasikan keimanan, keilmuan, dan amal. Seperti dikemukakan oleh Agussalim Sitompul, HMI merupakan “laboratorium kader umat dan bangsa” yang mencetak generasi berpikir rasional tanpa kehilangan spiritualitasnya.
Namun dalam pandangan saya, tantangan yang dihadapi mahasiswa di zaman ini jauh lebih kompleks dibanding masa-masa sebelumnya. Mahasiswa kini hidup di tengah arus globalisasi, digitalisasi, dan budaya instan yang sering mengikis nilai perjuangan dan idealisme. Banyak mahasiswa kehilangan arah intelektualnya karena terjebak dalam kenyamanan teknologi dan pragmatisme sosial. Dalam situasi seperti ini, buku HMI Menjawab Tantangan Zaman memberi pesan yang sangat relevan bahwa mahasiswa, khususnya kader HMI, harus menjadikan perubahan zaman bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang untuk membuktikan kapasitas intelektual dan moralnya. HMI harus hadir sebagai penuntun bagi mahasiswa agar mampu menafsirkan zaman dengan kritis dan kreatif, bukan sekadar mengikutinya. Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, kader HMI dituntut menjadi penggerak perubahan sosial yang berbasis ilmu, nilai, dan keimanan. Mahasiswa masa kini harus kembali menjadikan HMI sebagai ruang pembentukan diri: tempat berpikir, berjuang, dan mengabdi.
Secara pribadi, saya berpendapat bahwa HMI masih menjadi organisasi mahasiswa yang memiliki potensi besar untuk melahirkan pemimpin bangsa yang berkarakter, religius, dan rasional. Dengan berpegang pada prinsip keislaman dan keilmuan sebagaimana dicita-citakan oleh Ayahanda Prof. Drs. Lafran Pane, HMI dapat terus memainkan perannya sebagai penyeimbang moral dan intelektual dalam kehidupan nasional. Relevansi HMI tidak ditentukan oleh usia organisasinya, melainkan oleh sejauh mana ia mampu menjaga idealisme, memperkuat kaderisasi, dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan arah. Sebagaimana ditegaskan dalam HMI Menjawab Tantangan Zaman, “HMI tidak lahir untuk mengikuti zaman, tetapi untuk menuntun zaman.” Prinsip inilah yang menjadi kunci agar HMI tetap menjadi mercusuar intelektual dan spiritual bagi mahasiswa Indonesia, hari ini dan di masa depan.












Comment