Kesehatan
Home / Kesehatan / Dinas Kesehatan Sumbawa Fokus Perkuat Intervensi Spesifik, Dorong Sinergi Lintas Sektor Tekan Stunting

Dinas Kesehatan Sumbawa Fokus Perkuat Intervensi Spesifik, Dorong Sinergi Lintas Sektor Tekan Stunting

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Sarip Hidayat, SKM., MPH

Sumbawa Besar, Merdekainsight.com — Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa terus memperkuat upaya pengendalian stunting dengan memusatkan perhatian pada intervensi spesifik, yaitu langkah-langkah yang berhubungan langsung dengan kesehatan dan gizi ibu serta anak. Upaya ini menjadi bagian dari strategi nasional percepatan penurunan stunting di tingkat daerah.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Sarip Hidayat, SKM., MPH, menjelaskan bahwa intervensi spesifik berkontribusi sekitar 30 persen terhadap penurunan stunting, sementara intervensi sensitif memiliki peran sekitar 70 persen. “Fokus kami di Dinas Kesehatan adalah memperkuat intervensi spesifik, terutama yang berkaitan langsung dengan gizi dan kesehatan ibu serta anak,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Jumat (24/10/2025).

Ia menuturkan bahwa intervensi spesifik meliputi pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil, pemantauan kehamilan, imunisasi, pemberian ASI eksklusif, serta makanan pendamping ASI (MP-ASI) bergizi seimbang. Program ini difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) — sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun — yang dikenal sebagai masa emas (golden period) dalam pertumbuhan anak.

Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, sekitar 11 hingga 12 persen kasus stunting di Kabupaten Sumbawa berawal dari kekurangan gizi pada ibu sejak masa kehamilan. Fase setelah kelahiran hingga anak berusia dua tahun memiliki kontribusi terbesar, yakni sekitar 60 persen, terhadap risiko stunting, sedangkan sisanya terjadi pada usia dua hingga lima tahun.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Sumbawa mencapai 25,7 persen pada 2023 dan meningkat menjadi 28,9 persen pada 2024. Adapun data EPPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) menunjukkan angka 8,11 persen pada 2023 dan 8,67 persen pada 2024.

Wabup H. Ansori: Jangan Rapat Terus, Tapi Lakukan Aksi Nyata Tangani Stunting

“Kalau kita melihat data real melalui EPPGBM hingga Agustus 2025, terdapat 3.442 balita yang masuk kategori stunting atau sekitar 10,55 persen dari balita yang dipantau. Kasus ini tersebar di seluruh kecamatan, dan sebagian masih berisiko tinggi, sehingga kami terus melakukan intervensi spesifik secara berkelanjutan,” jelas H. Sarip Hidayat.

Selain menangani kasus yang sudah ada, Dinas Kesehatan juga fokus pada pencegahan sejak dini. Program diarahkan agar anak dengan gizi kurang tidak berkembang menjadi stunting melalui pemenuhan asupan gizi, pemantauan tumbuh kembang, dan edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya nutrisi seimbang.

Intervensi juga dilakukan pada remaja putri, sebagai langkah awal memutus rantai penyebab stunting. Remaja dianjurkan untuk rutin mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) satu kali setiap minggu guna mencegah anemia. “Dengan kondisi gizi yang baik sejak remaja, risiko melahirkan anak stunting dapat ditekan secara signifikan,” ujarnya.

Pada masa kehamilan, ibu dianjurkan untuk mengonsumsi tablet tambah darah setiap hari serta melakukan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali, termasuk dua kali USG di puskesmas. Pemeriksaan ini penting untuk memantau perkembangan janin dan mendeteksi dini kemungkinan gangguan selama kehamilan.

Setelah bayi lahir, perhatian terhadap tumbuh kembang dilakukan melalui pemberian imunisasi dasar lengkap, ASI eksklusif, serta MP-ASI bergizi yang mengandung protein hewani seperti telur, ikan, ayam, dan daging sapi. Asupan protein hewani berperan penting dalam pembentukan jaringan tubuh dan otak anak.

Pertemuan TPKJM Sumbawa, Wabup Ansori Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Jiwa

Selain intervensi spesifik yang berfokus pada aspek gizi dan kesehatan, terdapat pula intervensi sensitif yang berkaitan dengan faktor lingkungan dan sosial. Pengendalian lingkungan memiliki peran besar dalam mencegah stunting. Akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak sangat memengaruhi kesehatan anak, karena lingkungan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi yang berdampak langsung pada pertumbuhan.

Dalam hal ini, kolaborasi lintas sektor dan lintas organisasi perangkat daerah (OPD) menjadi sangat penting. Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Sosial, serta perangkat desa perlu bersinergi memastikan masyarakat memiliki akses yang memadai terhadap air bersih, fasilitas sanitasi, dan layanan kesehatan.

Selain itu, aspek jaminan kesehatan juga menjadi perhatian. Pemerintah harus memastikan bahwa keluarga, terutama yang tergolong kurang mampu, memiliki akses terhadap jaminan kesehatan agar dapat memanfaatkan layanan medis tanpa hambatan biaya.

Melalui sinergi dan kolaborasi lintas sektor tersebut, upaya pencegahan dan penanganan stunting diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan menyentuh masyarakat secara langsung di tingkat desa tempat persoalan ini paling nyata terlihat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa optimistis bahwa penguatan intervensi spesifik, disertai dukungan intervensi sensitif dari berbagai pihak, akan memberikan hasil yang signifikan. “Penguatan intervensi spesifik pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan menjadi kunci membentuk generasi Sumbawa yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” tutup H. Sarip Hidayat.

Peringati HKN dan Hari Ibu, Dinkes Sumbawa Gelar Pengabdian Masyarakat di Puskesmas Alas

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page