Sumbawa Besar, Merdekainsight.com — Forum Mahasiswa Nusa Tenggara Timur (FORMA NTT) – Bima menggelar diskusi kemerdekaan bertema “Mahasiswa dan Wawasan Kebangsaan: Ide Konstruktif untuk Negara” pada Senin malam (18/8), pukul 20.00–22.30 WITA, secara daring melalui Google Meet. Kegiatan ini diikuti perwakilan organisasi mahasiswa NTT dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam sambutannya, Ketua Umum FORMA NTT-Bima, Tobi As Tobit, menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan gagasan konstruktif bagi bangsa.
“Dalam kerangka pembangunan nasional, wawasan kebangsaan memegang peranan krusial dalam membentuk identitas kolektif dan kesadaran masyarakat. Dengan wawasan kebangsaan yang kuat, mahasiswa dapat menjadi katalisator bagi kemajuan bangsa,” ujarnya.
Diskusi menghadirkan dua pemateri utama. Sahidah, Kabid Pembinaan Aparatur Organisasi HMI Cabang Bima Periode 2024-2025, membawakan materi “Sudahkah Perempuan Merdeka”. Ia menjelaskan bahwa meski perempuan secara eksistensi sudah merdeka sejak lahir, tetapi masih menghadapi tantangan besar dalam kesetaraan, diskriminasi, dan kekerasan berbasis gender.
“Di Indonesia, kemerdekaan perempuan masih dalam tahap proses karena adanya kesenjangan partisipasi politik dan kekerasan berbasis gender. Padahal perempuan adalah ibu peradaban yang melahirkan peradaban itu sendiri,” tegas Sahidah.
Pemateri kedua, Yahdil, Mantan Ketua Umum HMI Cabang Sumbawa Periode 2024-2025, membawakan materi “Merdeka Berekspresi, Politik, Hukum, dan Kesejahteraan”. Ia menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia belum selesai, dan harus diwujudkan melalui empat pilar utama.
Pertama, Merdeka Berekspresi, yakni rakyat harus bebas menyampaikan pendapat tanpa rasa takut, kriminalisasi, atau pasal karet. Kedua, Merdeka Politik, di mana demokrasi harus berpihak pada rakyat, bukan hanya oligarki. Ketiga, Merdeka Hukum, yaitu hukum yang adil, tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Keempat, Merdeka Kesejahteraan, karena kemerdekaan sejati baru berarti jika rakyat terbebas dari kemiskinan dan kesenjangan sosial.
“Delapan puluh tahun merdeka, kita masih dalam perjalanan menuju kemerdekaan yang sesungguhnya. Boleh kita bangga dengan kemerdekaan politik, tetapi jangan lupa rakyat masih berjuang untuk merdeka dalam berekspresi, hukum, dan kesejahteraan,” kata Yahdil.
Ia menegaskan, kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat dapat bicara tanpa takut, hukum melindungi yang lemah, politik dijalankan untuk rakyat, dan kesejahteraan dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.












Comment