Sumbawa Besar, Merdekainsight.com — Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2025, Pemerintah Kabupaten Sumbawa memastikan situasi harga bahan pokok masih terkendali. Sejumlah komoditas memang mengalami kenaikan tipis, namun belum memengaruhi stabilitas pasar daerah.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DisKUKMindag) Kabupaten Sumbawa, E.S. Adi Nusantara, S.T., M.Sc., mengatakan bahwa hasil pemantauan tim dinas menunjukkan pergerakan harga masih berada pada level wajar.
“Secara umum kondisi pasar aman. Ada sedikit kenaikan di beberapa komoditas, tapi tidak signifikan dan masih dalam rentang normal menjelang Nataru,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (08/12/2025).
Berdasarkan data pemantauan Kamis (04/12/2025), harga cabai rawit naik dari Rp23 ribu menjadi Rp25 ribu per kilogram, sedangkan bawang merah bergerak dari Rp40 ribu menjadi Rp41.600 per kilogram. Sementara itu, minyak goreng tetap di angka Rp22 ribu per liter dan gula pasir curah bertahan di Rp17.300 per kilogram.
Untuk komoditas protein hewani, harga daging ayam berada di kisaran Rp39.300 per kilogram, telur ayam ras Rp30 ribu, dan daging sapi di angka Rp78 ribu per kilogram. Adapun beras medium dijual Rp13.300 per kilogram dan beras premium Rp14.800 — keduanya belum menunjukkan tanda kenaikan.
Menurut Adi, stabilnya harga beras tidak lepas dari upaya pengawasan dan koordinasi lintas sektor, termasuk keterlibatan Satgas Pangan Polda NTB dalam melakukan penertiban harga di lapangan.
“Beberapa waktu lalu harga beras memang sempat naik. Namun setelah ada pemantauan dari Satgas Pangan, harga kembali menyesuaikan dengan HET dan para suplier sepakat menjaga kestabilan,” jelasnya.
Ia menegaskan, menjelang akhir tahun pihaknya akan terus melakukan pengawasan rutin agar tidak terjadi lonjakan harga secara tiba-tiba.
“Kami pantau terus setiap pekan. Pergerakan harga masih terkendali dan tidak ada gejolak berarti di pasar,” katanya.
Selain memantau harga, pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aksi belanja berlebihan. Menurut Adi, perilaku konsumsi yang berlebihan justru berpotensi memicu kenaikan harga.
“Kami minta masyarakat tetap bijak. Ketersediaan bahan pokok cukup, tidak perlu panic buying. Kalau permintaan stabil, pasokan juga akan tetap lancar,” tegasnya.
Adi menambahkan, hasil pemantauan inflasi yang dilakukan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tekanan inflasi di Sumbawa justru lebih banyak dipengaruhi oleh komoditas non-pangan.
“Faktor penyumbang inflasi tahun ini bukan dari bahan pokok, melainkan dari kenaikan harga emas serta produk rokok dan tembakau,” ungkapnya.
Dengan stok yang aman dan distribusi yang berjalan lancar, Adi menyatakan optimisme bahwa stabilitas harga akan tetap terjaga hingga memasuki tahun baru.
“Kami akan terus menjaga koordinasi dengan lintas instansi dan pelaku usaha. Prinsipnya, masyarakat tidak perlu cemas karena kondisi pasar Sumbawa sampai saat ini masih sangat terkendali,” pungkasnya.












Comment