Sumbawa Besar, Merdekainsight.com – Upaya eliminasi penyakit malaria di Kabupaten Sumbawa masih menghadapi tantangan besar. Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa mencatat, sebagian besar kasus malaria ditemukan pada masyarakat yang beraktivitas di wilayah pertambangan rakyat yang menjadi penyumbang tertinggi kasus di daerah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Syarif Hidayat, SKM., MPH, mengungkapkan bahwa aktivitas pertambangan rakyat menjadi salah satu faktor utama yang memperlambat proses eliminasi malaria. Banyak penambang yang tidak memanfaatkan fasilitas kesehatan yang disediakan pemerintah, sehingga penanganan dini sulit dilakukan.
“Banyak kasus malaria kita temukan di lokasi pertambangan rakyat, sehingga kami kesulitan melakukan intervensi lebih lanjut. Apalagi mereka enggan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang sudah kami siapkan,” ujar Syarif Hidayat, Selasa (18/11/2025).
Ia menjelaskan, pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tersebut. Sosialisasi rutin dan pembagian kelambu gratis telah dilakukan, baik melalui bantuan luar negeri maupun dari anggaran pemerintah daerah.
“Kami sudah membagikan kelambu kepada masyarakat yang keluar masuk area tambang rakyat. Namun dari hasil evaluasi, banyak di antara mereka yang tidak menggunakan kelambu tersebut dan hanya disimpan di lemari. Akibatnya, kasus malaria tetap terjadi,” jelasnya.
Selain distribusi kelambu, Dinas Kesehatan juga melakukan pemeriksaan darah langsung di area pertambangan untuk mendeteksi keberadaan parasit malaria. Upaya ini penting dilakukan agar potensi penularan dapat segera dikendalikan.
“Kami melakukan pemeriksaan darah di lokasi tambang untuk memastikan apakah ada parasit malaria di tubuh mereka. Jika ditemukan, penularannya bisa meluas karena mereka kembali ke desa dan berinteraksi dengan warga lain,” ungkapnya.
Syarif menekankan bahwa pengendalian penyakit malaria bergantung pada upaya memutus rantai penularan, yaitu dengan mengobati orang yang memiliki parasit dalam tubuhnya. “Meskipun ada nyamuk, kalau tidak ada parasit di tubuh manusia, maka penularan tidak akan terjadi,” katanya.
Menurutnya, risiko terbesar muncul ketika seseorang yang terinfeksi kembali ke daerah perindukan nyamuk dan digigit, karena hal itu dapat menularkan penyakit ke orang lain. “Paling berisiko jika seseorang membawa parasit malaria dan berada di wilayah banyak nyamuk. Penularannya bisa sangat cepat,” tambahnya.
Syarif juga memperingatkan bahwa malaria bukan penyakit ringan, sebab parasitnya dapat menyerang otak dan berpotensi menyebabkan kematian jika tidak ditangani sesuai standar medis.
“Efek malaria sangat berbahaya. Jika tidak tertangani dengan benar, parasit bisa menyerang otak dan menyebabkan kematian,” tegasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan agar tidak ada tempat berkembang biaknya nyamuk. Dikes juga meminta masyarakat di wilayah pertambangan rakyat agar rutin memeriksakan kesehatan untuk mendeteksi dini penularan.
“Kami mengimbau masyarakat menjaga lingkungan agar tidak ada tempat perindukan nyamuk, dan bagi warga di area tambang, kami minta agar rutin melakukan pemeriksaan kesehatan,” tutupnya.












Comment