OPINI
Home / OPINI / Refleksi Kemerdekaan Indonesia: Saatnya Merdeka dari Sekadar Seremonial

Refleksi Kemerdekaan Indonesia: Saatnya Merdeka dari Sekadar Seremonial

Penulis: Yahandra Muslimin (Presiden Mahasiswa UNSA 2011-2012)

Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 adalah hasil dialektika dua semangat besar: kehati-hatian golongan tua dan desakan revolusioner generasi muda. Sayangnya, dalam praktik hari ini, peringatan kemerdekaan sering kali tereduksi menjadi serangkaian acara simbolik yang kehilangan esensi perjuangan. Tulisan ini mencoba menyoroti betapa bangsa ini perlu kembali merefleksikan sejarah, menghidupkan makna kemerdekaan, dan mengakhiri mentalitas “merdeka setahun sekali.”

Setiap tahun, 17 Agustus datang dan pergi. Upacara digelar, bendera dikibarkan, dan media sosial dipenuhi slogan nasionalisme instan. Namun, pertanyaan mendasarnya: apakah bangsa ini benar-benar masih menghayati makna kemerdekaan, atau sekadar memperingatinya? Kita terlalu nyaman merayakan kemerdekaan sebagai rutinitas: seragam putih, lomba makan kerupuk, pidato pejabat, dan selebrasi kosong yang selesai begitu tanggal berganti. Padahal, kemerdekaan lahir dari ketegangan, keberanian, bahkan risiko darah dan nyawa bukan dari panggung acara atau dekorasi merah-putih. Ini bukan perayaan ulang tahun biasa. Ini tentang pembebasan dari ketidakadilan.

Sejarah tidak dibentuk oleh satu kelompok saja. Proklamasi 1945 adalah hasil tarik-ulur antara kehati-hatian tokoh seperti Soekarno-Hatta dan desakan generasi muda seperti Sukarni dan Wikana. Golongan tua sadar akan risiko politik; generasi muda paham akan momentum. Rengasdengklok adalah bukti bahwa gesekan antar generasi bisa menjadi kekuatan. Namun ironisnya, dalam perayaan hari ini, semangat dialektika itu hilang. Generasi tua terlalu sibuk mempertahankan narasi lama, sementara generasi muda dibiarkan sibuk dengan TikTok bertema nasionalisme semu. Kita lupa bahwa kemerdekaan adalah hasil konsensus bukan satu suara, tapi keberanian untuk berbeda demi tujuan bersama.

Kemerdekaan Indonesia bukan hadiah dari Jepang atau hasil kesepakatan elite. Ia adalah manifestasi kesadaran kolektif bahwa bangsa ini berhak menentukan nasibnya sendiri. Pernyataan dalam Pembukaan UUD 1945 “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa” bukan sekadar kutipan konstitusi, tapi deklarasi moral yang seharusnya terus hidup dalam tindakan, bukan sekadar di pidato. Sayangnya, kita terlalu sering melupakan kesadaran itu. Bangsa ini tampak “merdeka” secara simbolik, tetapi dalam banyak aspek masih terjajah secara sistemik: oleh korupsi, oligarki, kemiskinan, bahkan ketergantungan digital. Kita merdeka dari kolonialisme, tapi belum dari ketidakadilan. Apa makna perlombaan tarik tambang dan panjat pinang dalam dunia yang penuh ketimpangan ekonomi? Apakah nyanyian “Indonesia Raya” di tengah krisis kepercayaan terhadap lembaga publik masih memberi gema dalam hati anak muda? Bukan berarti simbol tidak penting. Tapi simbol tanpa refleksi adalah formalitas kosong.

Refleksi Pilkada Langsung: Antara Romantisme Demokrasi dan Fakta Sosial

Peringatan kemerdekaan seharusnya jadi waktu untuk: Mengingat perjuangan, bukan hanya memamerkan bendera, Mengoreksi arah bangsa, bukan hanya merayakan capaian semu, Memerdekakan yang belum merdeka: masyarakat adat, petani, buruh, dan kelompok rentan. Jika perayaan tidak membuat kita bertanya ulang tentang bangsa ini, maka itu bukan perayaan, itu pelupaan. Ironisnya, generasi muda kini justru terpinggirkan dari makna sejati kemerdekaan. Mereka diwarisi hari libur, bukan kesadaran sejarah. Ditinggali narasi-narasi besar yang tidak pernah dikontekstualisasi dalam dunia mereka yang digital, cepat, dan kompleks. Padahal, dalam sejarah, mereka yang muda justru menggebrak. Maka tantangan hari ini bukan hanya meneruskan api perjuangan, tapi menyalakan kembali maknanya. Perjuangan hari ini bukan mengusir penjajah bersenjata, tapi mengatasi penjajahan gaya baru: kebodohan sistemik, ketimpangan digital, dan krisis etika di era algoritma.

Merdeka bukan capaian, melainkan proses terus-menerus. Maka, refleksi atas kemerdekaan bukan soal romantisme masa lalu, tapi keberanian melihat wajah bangsa hari ini apa yang sudah kita jaga, dan apa yang telah kita abaikan. Jika bangsa ini ingin tetap merdeka, maka tugas generasi saat ini adalah merawat akarnya, bukan sekadar menikmati bunganya. Kita tidak boleh puas hanya karena “sudah merdeka.” Kita harus terus bertanya: “Untuk siapa kemerdekaan ini ditegakkan?”

Comment

  1. Herna says:

    Terus semangat dalam menulis bang YM…
    Untk Membuka cakrawala berfikir kami…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page