Sumbawa Besar, Merdekainsight.com — Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan jasa menjelang akhir tahun. Langkah ini diambil sebagai respons atas tren kenaikan inflasi lokal yang mencapai 2,99 persen per Oktober 2025.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Setda Sumbawa, Ivan Indrajaya, S.T., M.M., mengatakan bahwa TPID akan memperkuat sistem pemantauan harga dan mempercepat intervensi bila ditemukan kenaikan yang tidak wajar.
“Kami telah menugaskan tim untuk memantau pasar harian, terutama di Kecamatan Sumbawa, Alas, dan Plampang. Fokusnya adalah bahan pangan strategis seperti beras, cabai merah, ikan laut, serta jasa transportasi,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (6/11/2025).
Menurut Ivan, kerja sama lintas sektor menjadi kunci pengendalian inflasi yang efektif. Pemkab menggandeng Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Perhubungan, Bulog, serta pelaku usaha untuk memastikan ketersediaan pasokan dan distribusi barang tetap lancar.
“Koordinasi dengan Bulog dan distributor dilakukan rutin. Kalau ada gejala kenaikan, langkah cepat yang diambil bisa berupa operasi pasar atau pengendalian distribusi,” jelasnya.
Selain menjaga harga pangan, TPID juga menaruh perhatian pada sektor transportasi dan perawatan pribadi yang selama ini memberi andil cukup besar terhadap inflasi bulanan.
“Biaya transportasi, khususnya angkutan umum antar-kecamatan, perlu kita kendalikan karena berpengaruh terhadap distribusi barang dan jasa lain,” imbuhnya.
Ivan menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen mengawal stabilitas harga hingga akhir tahun agar masyarakat tidak terbebani oleh gejolak ekonomi musiman.
“Tujuan akhirnya adalah menjaga kesejahteraan masyarakat. Kita tidak ingin inflasi tinggi menggerus pendapatan rumah tangga,” tegasnya.












Comment