Sumbawa Besar, Merdekainsight.com — Upaya pelestarian budaya lokal di Kabupaten Sumbawa terus diperkuat melalui pendekatan inovatif yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pelestarian Kre Sesek sebagai Warisan Budaya Sumbawa melalui Platform E-Learning EduBudaya Samawanesia untuk Penguatan Peran Perempuan dan Inklusi Generasi Muda” yang digelar di Aula Kantor Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, Kamis (16/04).
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi penelitian yang didukung oleh Hibah Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Program tersebut bertujuan mengintegrasikan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi masyarakat serta transformasi digital berbasis pendidikan.
FGD menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya perwakilan UPT Museum Daerah Kabupaten, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Fikri, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sutan Syahril, perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sri Handayani, serta Kepala Rumah BUMN PLN Lalu Ahmad Taubih. Turut hadir Kepala Desa Poto Fathul Muin, tokoh budaya Siti Aminah, para penenun perempuan, akademisi Universitas Teknologi Sumbawa, Karang Taruna, dan generasi muda setempat.
Ketua peneliti dalam sambutannya menegaskan bahwa Kre Sesek tidak hanya sekadar produk kerajinan, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya sekaligus ruang ekspresi perempuan Sumbawa. Ia menambahkan, aktivitas menenun selama ini juga berperan penting dalam menopang ekonomi keluarga.
“Pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada simbol dan seremoni. Kre Sesek harus mampu memberikan dampak nyata, baik dalam penguatan identitas budaya, pemberdayaan perempuan, maupun peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Dalam diskusi, sejumlah isu strategis mengemuka, mulai dari tantangan regenerasi penenun, rendahnya minat generasi muda, hingga keterbatasan akses pasar dan digitalisasi. Untuk menjawab tantangan tersebut, platform e-learning EduBudaya Samawanesia dihadirkan sebagai solusi inovatif yang menjembatani tradisi dengan teknologi.
Platform ini dirancang tidak hanya sebagai media pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana dokumentasi, promosi, dan diseminasi pengetahuan budaya secara luas dan inklusif. Melalui pendekatan ini, generasi muda diharapkan dapat terlibat aktif sebagai agen pelestari budaya sekaligus inovator di era digital.
Selain itu, FGD juga menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan penenun sebagai aktor utama dalam ekosistem Kre Sesek. Melalui penguatan kapasitas, perluasan akses pasar, dan pemanfaatan teknologi, produk tenun lokal diharapkan memiliki daya saing lebih tinggi serta memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan.
Sebagai luaran program, tim peneliti menargetkan empat produk utama, yakni buku ajar berbasis Kre Sesek, platform e-learning EduBudaya Samawanesia, publikasi jurnal penelitian, serta publikasi jurnal pengabdian kepada masyarakat.
Melalui forum ini, berbagai masukan dan rekomendasi strategis dihimpun sebagai dasar penyempurnaan program sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga langkah konkret dalam membangun ekosistem pelestarian budaya yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak ekonomi, khususnya bagi perempuan penenun dan generasi muda sebagai penerus warisan budaya Sumbawa.






















Comment