Kesehatan
Home / Kesehatan / Pembangunan RSUD Sering Direview Ulang, Direksi Targetkan DED Rampung September 2026

Pembangunan RSUD Sering Direview Ulang, Direksi Targetkan DED Rampung September 2026

Sumbawa Besar, Merdekainsight.com – Kelanjutan pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) baru yang berlokasi di kawasan Sering, Kecamatan Unter Iwes, memasuki tahap penyesuaian perencanaan. Direksi RSUD Sumbawa menargetkan proses redesign dan review Detail Engineering Design (DED) dapat selesai pada September 2026 agar menjadi dasar penganggaran pembangunan pada tahun 2027.

Direktur RSUD Sumbawa, dr. Mega Harta, M.PH, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil pertemuan terakhir dengan Kementerian Kesehatan, pihaknya dianjurkan untuk melakukan redesign terhadap DED yang telah disusun sebelumnya karena dinilai sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan standar terkini.

“Hasil pertemuan terakhir bersama Kementerian Kesehatan, kami dianjurkan melakukan redesign ulang DED. Hal ini karena DED lama dianggap sudah ketinggalan zaman. Setelah dilakukan redesign, nanti akan dilakukan review kembali,” ujar dr. Mega pada Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, DED lama mencantumkan kebutuhan anggaran pembangunan RSUD Sering sebesar Rp267 miliar. Namun, angka tersebut berpotensi berubah setelah proses redesign dilakukan karena adanya penyesuaian harga terkini dan perubahan konsep bangunan yang direncanakan lebih sederhana.

“Di dalam dokumen DED lama disebutkan kebutuhan anggaran sebesar Rp267 miliar. Untuk DED yang baru kemungkinan akan ada peningkatan biaya karena penyesuaian harga saat ini. Namun saya juga menginginkan bangunannya lebih ringkas dan sederhana dengan jumlah tempat tidur sekitar 250. Dalam redesign tersebut semoga dapat mengurangi anggaran. Jadi ada faktor yang bisa menaikkan maupun menurunkan biaya. Kami belum mengetahui hasil akhirnya, tetapi berharap anggarannya bisa lebih rendah sehingga lebih mudah direalisasikan,” katanya.

Pemkab Sumbawa Siapkan Tiga Skema Intervensi, Targetkan Penurunan Stunting Hingga 5 Persen pada 2026

Dr. Mega menjelaskan bahwa penyelesaian review DED menjadi agenda yang sangat penting karena akan menentukan arah pembiayaan pembangunan pada tahun mendatang. Sumber pendanaan pembangunan nantinya dapat berasal dari APBD, bantuan pemerintah pusat, maupun skema pendanaan lainnya yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Sumbawa.

“Review DED ini kami harapkan dapat selesai secepatnya pada bulan September 2026 sehingga bisa menjadi dasar penganggaran tahun 2027. Tahun 2027 sangat krusial karena pembangunan rumah sakit ini sudah darurat dan mendesak,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keputusan mengenai skema pembiayaan pembangunan sepenuhnya akan bergantung pada kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa.

“Apakah nantinya melalui APBD murni, bantuan dari pemerintah pusat, bantuan lainnya atau skema peminjaman, tentu akan sangat tergantung pada bagaimana Pemda Sumbawa menyikapi persoalan ini,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penyelesaian pembangunan RSUD Sering bukan sekadar pembangunan fisik gedung baru, melainkan bagian dari upaya strategis meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian keuangan rumah sakit.

Realisasi CKG di Sumbawa Baru 26,44 Persen, Dinkes Intensifkan Layanan Hingga ke Masyarakat

“Penyelesaian pembangunan RSUD Sering merupakan kebutuhan strategis yang tidak bisa lagi ditunda. Ini bukan hanya soal membangun gedung baru, tetapi bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat dan memperkuat kemandirian rumah sakit ke depan,” tegasnya.

Saat ini operasional RSUD Sumbawa masih berlangsung dalam kondisi terfragmentasi antara gedung lama dan sebagian fasilitas yang telah tersedia di kawasan RS Sering. Kondisi tersebut dinilai menimbulkan berbagai inefisiensi operasional, mulai dari penggandaan layanan, kebutuhan tenaga pendukung tambahan, biaya logistik, hingga pemeliharaan fasilitas di dua lokasi berbeda.

Berdasarkan analisis manajemen, operasional di dua lokasi tersebut menyebabkan tambahan biaya sekitar Rp1,92 miliar per tahun. Anggaran tersebut dinilai tidak memberikan nilai tambah secara langsung terhadap peningkatan kualitas pelayanan maupun keselamatan pasien.

“Operasional di dua lokasi menyebabkan berbagai inefisiensi. Ada biaya tambahan yang mencapai sekitar Rp1,92 miliar per tahun, padahal anggaran tersebut pada dasarnya tidak memberikan nilai tambah langsung terhadap kualitas pelayanan maupun keselamatan pasien,” ungkap dr. Mega.

Selain itu, keterbatasan kapasitas pelayanan dan kondisi gedung lama yang semakin padat juga berdampak pada kebocoran pendapatan rumah sakit. Banyak pasien memilih berobat ke rumah sakit lain atau keluar daerah karena keterbatasan ruang pelayanan dan fasilitas yang tersedia.

Semarak Hari Anak Nasional, Kadis Kesehatan Sumbawa Ajak Anak Bermain Kuis dan Berikan Hadiah

Manajemen RSUD Sumbawa memperkirakan bahwa apabila pembangunan RS Sering dapat diselesaikan dan kapasitas layanan ditingkatkan, rumah sakit berpotensi memperoleh tambahan pendapatan hingga Rp14,5 miliar per tahun. Potensi tersebut belum termasuk pendapatan dari layanan bedah yang selama ini belum optimal akibat keterbatasan kamar operasi.

Direktur RSUD Sumbawa juga menyoroti peluang pengembangan sejumlah layanan unggulan apabila RS Sering telah beroperasi penuh. Layanan tersebut meliputi pelayanan jantung melalui Cathlab, kemoterapi bagi pasien kanker, layanan stroke dengan dukungan CT-Scan modern, serta peningkatan kapasitas Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan Pediatric Intensive Care Unit (PICU).

“Selama ini banyak pasien harus dirujuk ke Mataram atau rumah sakit lain karena keterbatasan fasilitas. Ketika layanan tersebut tersedia di Sumbawa, masyarakat tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk berobat ke luar daerah, sementara rumah sakit dapat meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanannya,” kata dr. Mega.

Secara keseluruhan, manajemen memperkirakan potensi kebocoran ekonomi akibat rujukan keluar daerah dan keterbatasan layanan mencapai sekitar Rp26,1 miliar per tahun. Apabila pembangunan RS Sering dapat diselesaikan, nilai ekonomi tersebut berpotensi kembali berputar di Kabupaten Sumbawa sekaligus memperkuat pendapatan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSUD Sumbawa.

Lebih jauh, penyelesaian pembangunan rumah sakit juga dinilai penting untuk mengamankan peluang hibah alat kesehatan dari pemerintah pusat senilai sekitar Rp115 miliar yang diperuntukkan bagi pengembangan layanan KJSU-KIA, meliputi Jantung, Kanker, Stroke, Uronefrologi, serta Kesehatan Ibu dan Anak. Kesiapan infrastruktur menjadi salah satu syarat utama agar bantuan tersebut dapat direalisasikan.

“Peluang hibah alat kesehatan ini sangat penting. Karena itu kesiapan infrastruktur menjadi salah satu syarat utama yang harus dapat dipenuhi agar bantuan tersebut bisa direalisasikan,” ujarnya.

Sebagai persiapan menuju operasional penuh RS Sering, manajemen RSUD Sumbawa mengaku telah melakukan berbagai pembenahan internal. Langkah tersebut mencakup reformasi sistem remunerasi berbasis kinerja, digitalisasi rekam medis elektronik, hingga peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dan tenaga teknis.

“Kami tidak hanya menunggu gedung selesai. SDM sudah dipersiapkan, sistem sudah mulai dibangun, dan transformasi internal terus berjalan. Ketika RS Sering selesai, kami ingin seluruh layanan unggulan dapat langsung beroperasi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

dr. Mega menegaskan bahwa penyelesaian RSUD Sering merupakan investasi jangka panjang yang akan memberikan manfaat besar bagi daerah, baik dari sisi pelayanan kesehatan, penguatan ekonomi lokal, maupun peningkatan kemandirian rumah sakit.

“Menunda penyelesaian RS Sering bukan hanya menunda pembangunan gedung, tetapi juga menunda peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat, menunda efisiensi, dan menunda peluang besar yang dapat dinikmati masyarakat Sumbawa. Karena itu kami berharap pembangunan ini dapat menjadi prioritas bersama demi masa depan pelayanan kesehatan yang lebih baik,” pungkasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page