Oleh : Rahmat Ramdani (Pengamat Budaya Lokal)
Saya melihat ada 3 faktor utama yang bikin generasi muda Sumbawa mulai jauh dari budaya lokal:
1. Dominasi budaya populer & globalisasi
Budaya Sakeco sudah hampir punah khususnya di Sumbawa Barat karena adanya musik-musik modern. Masyarakat lebih mempopulerkan budaya luar dibanding budaya sendiri. Saat acara nikahan atau khitanan, keluarga lebih sering mengundang band daripada seniman Sakeco.
Globalisasi juga mendorong terbentuknya manusia modern yang individualistik. Akulturasi budaya masuk deras dan mengubah tatanan hidup jadi lebih materialistis. Akibatnya nilai kebersamaan seperti dalam Basiru jadi tergerus.
2. Putusnya transmisi nilai ke generasi muda
Padahal Sakeco bukan cuma hiburan. Di dalamnya ada nilai religius, sosial, pendidikan, dan ekonomi. Ada nilai karakter: religius, kerja keras, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, peduli sosial, cinta tanah air, kreatif, dan tanggung jawab. Sakeco juga jadi media dakwah Islam dan menyampaikan pesan moral.
Masalahnya, menonton Sakeco tanpa mengetahui pesan dan makna merupakan permasalahan yang terjadi. Pendidikan karakter lokal telah ditinggalkan oleh generasi muda. Kalau tidak paham makna lawas dan filosofinya, generasi muda cuma lihat Sakeco sebagai “musik kuno” yang kalah keren dari TikTok.
3. Bergesernya sistem sosial masyarakat
Basiru adalah gotong royong atas dasar persaudaraan dan rasa saling peduli. Tapi tradisi Basiru di Sumbawa Barat hari ini masih dapat kita temukan, tetapi jumlahnya sudah sedikit.
Koentjaraningrat bahkan menyatakan gotong royong saat ini hanya dianggap sebagai sikap tolong menolong yang hanya menjadi sejarah belaka. Sekarang lebih sering dipakai kalau ada kematian, pesta, panen, atau bencana saja. Ekonomi agraris bergeser ke industri, dan hidup jadi lebih individual.
Jadi menurut saya: Bukan generasinya yang salah, tapi kita kurang mengemas budaya ini supaya relevan. Sakeco punya fungsi pengungkapan emosional, hiburan, komunikasi, pengiring upacara, dan stabilitas budaya. Basiru mengajarkan kebersamaan yang sekarang makin langka.
Kalau tidak ada upaya revitalisasi yang serius — masuk kurikulum, festival anak muda, kolaborasi dengan musik modern — 10-20 tahun lagi Sakeco, Baserakal, dan Basiru bisa tinggal nama di skripsi.
Solusinya bukan memaksa anak muda “kembali ke zaman dulu”, tapi menunjukkan bahwa nilai-nilai di dalam budaya lokal Sumbawa itu justru jawaban untuk masalah hari ini: individualisme, krisis karakter, dan hilangnya rasa kebersamaan.
Strategi Pelestarian Budaya Lokal Sumbawa: Sakeco, Baserakal, Basiru
Biar budaya nggak cuma jadi catatan skripsi, pelestarian harus jalan dua arah: kebijakan dari pemerintah + gerakan dari masyarakat. Ini strategi praktisnya:
Strategi yang Perlu Dilakukan Pemerintah Daerah
a. Buat Perda Pelestarian Budaya Samawa. Wajibkan instansi & sekolah gelar pentas budaya lokal minimal 2x setahun.
b. Alokasi dana desa khusus untuk sanggar & maestro budaya. Insentif untuk seniman Sakeco, Baserakal. Ada payung hukum & anggaran tetap, bukan proyek musiman
Pendidikan
a. Masukkan muatan lokal Sakeco, Basiru, Baserakal ke kurikulum SD-SMA. Bukan teori doang, tapi praktik nabuh rabana, bikin lawas, gotong royong Basiru.
b. Sertifikasi guru muatan lokal bekerja sama dengan tokoh adat. Anak muda paham makna, bukan cuma nonton
Ruang & Event
a. Hidupkan “Festival Samawa” tahunan skala provinsi. Kolaborasi Sakeco x musik modern biar dilirik Gen Z.
b. Sediakan panggung permanen di alun-alun, bandara, hotel untuk pentas rutin.
c. Wajibkan EO & hotel tampilkan 1 kesenian lokal di setiap acara besar. Budaya punya panggung & pasar
Digitalisasi
a.Buat arsip digital: YouTube, TikTok, Podcast resmi Disbudpar berisi dokumentasi lawas Sakeco, tutorial Baserakal, cerita Basiru.
b. Daftarkan Sakeco & Basiru ke WBTB Nasional Kemendikbud. Menjangkau anak muda & dapat perlindungan negara
a. “Buka sanggar” dengan sistem magang. Regenerasi pemain Sakeco & juru lawas.
b. Kemas cerita di balik budaya dengan bahasa kekinian. Jelaskan nilai Basiru = teamwork, bukan cuma “gotong royong orang tua dulu”. Ada penerus & narasi yang nyambung ke anak muda
Orang Tua & Keluarga
a. Libatkan anak di acara adat: suruh ikut basiru saat hajatan tetangga.
b. Ganti ringtone HP dengan petikan Sakeco.
c. Ceritakan makna lawas pas kumpul keluarga. Budaya jadi kebiasaan, bukan pelajaran
Sekolah & Anak Muda
a. Bentuk ekskul Sanggar Samawa. Bikin konten: battle Sakeco versi TikTok, vlog makna Baserakal.
b. Komunitas Gen Z bikin “Sakeco Pride”: kaos, stiker, meme tentang budaya lokal. Anak muda jadi pelaku, bukan penonton
Pelaku Usaha & Media
a. Kafe/kaos lokal pakai tema lawas Sakeco.
b. Konten kreator Mataram/Sumbawa bikin series “24 Jam Jadi Anak Samawa”.
c. Gunakan Basiru sebagai CSR perusahaan: bangun rumah warga bareng-bareng. Budaya punya nilai ekonomi & hype
3. Kunci Utama: Kolaborasi & Relevansi
Masalah utama budaya lokal hampir punah adalah karena dianggap “nggak relevan”dan tergerus gaya hidup individualistik. Jadi strateginya:
1. Jangan dimuseumkan: Sakeco boleh kolab sama gitar. Basiru bisa dipakai buat kerja bakti lingkungan anak SMA.
2. Kasih panggung ekonomi: Seniman harus bisa hidup dari budaya. Kalau main Sakeco laku untuk _wedding_, pasti ada yang mau belajar.
3. Mulai dari rumah: Perda tidak ada gunanya kalau di hajatan keluarga kita sendiri malah sewa orgen tunggal.
Kalau pemerintah bikin ekosistem dan masyarakat mau jadi pelaku, Sakeco, Baserakal, dan Basiru nggak akan tinggal sejarah belaka.
Kamu mau mulai dari sisi mana dulu: sebagai anak muda, orang tua, atau pegiat komunitas?






















Comment