OPINI
Home / OPINI / Sejarah Pembuatan Minyak Sumbawa “Melala”: Warisan Tabib Tau Samawa

Sejarah Pembuatan Minyak Sumbawa “Melala”: Warisan Tabib Tau Samawa

Oleh : Rahmat Ramdani (Pengamat Budaya Lokal)

Minyak Sumbawa atau yang dikenal masyarakat lokal sebagai Melala bukan minyak goreng biasa. Ia adalah ramuan obat tradisional Tau Samawa yang prosesnya penuh ritual, syarat, dan filosofi. Di balik khasiatnya untuk “obat segala penyakit”, tersimpan sejarah panjang tentang hubungan manusia Sumbawa dengan alam dan spiritualitas.

1. Asal-Usul: Melala Sebagai Tradisi Turun-Temurun

Melala adalah tradisi turun temurun Suku Sumbawa membuat minyak dari bahan kelapa dan bahan alami lainnya. Resepnya diwariskan dari nenek moyang, berdasarkan adat-istiadat, kepercayaan, dan kebiasaan setempat. Karena itu Melala disebut sebagai pengetahuan tradisional.

Pembuatan minyak ini tidak dilakukan sembarangan waktu. Prosesi ini biasanya diadakan selama bulan Muharram di tahun Hijriah dan menjadi satu rangkaian dengan kegiatan peringatan Tahun Baru Islam. Masyarakat percaya minyak yang dibuat menjelang Tahun Baru Islam punya khasiat lebih kuat.

Sumbawa Hijau Lestari Jangan Sekadar Slogan

2. Bahan-Bahan: Racikan Alam Sumbawa

Bahan dasar Melala adalah santan kelapa yang direbus hingga menjadi minyak matang. Proses perebusan butuh waktu sekitar 4-5 jam di atas tungku kayu bakar. Bahkan jumlah kelapa yang dipakai pun ada hitungannya, tidak asal.

Yang bikin Melala_istimewa adalah bahan campurannya: akar-akar kayu hutan seperti Tengkura, Saga Loka, Sentok, madu, sarang burung, cabe, merica, jahe, bahkan bagian tubuh hewan tertentu. Tiap bahan dipilih sesuai khasiat yang diinginkan. Ada bahan rahasia yang hanya diketahui oleh Sandro tabib pembuatnya.

Uniknya, sebelum mengambil bahan dari hutan, Sandro harus minta izin dulu kepada makhluk penjaga hutan. Ini menunjukkan filosofi Tau Samawa: mengambil dari alam harus dengan adab.

3. Prosesi Sakral: Wilayahnya Laki-Laki dan Sandro

Antara Tambang dan Leluhur: Konflik yang Melampaui Soal Ekonomi

Prosesi Melala hanya bisa dilakukan oleh tabib laki-laki yang disebut Sandro. Tidak jarang para Sandro dikumpulkan dalam Festival Melala untuk unjuk kebolehan meracik ramuan khasnya.

Ada pantangan keras: tidak boleh ada campur tangan perempuan. Dipercaya kalau perempuan menyentuh racikan, santan tidak akan pernah jadi minyak dan khasiatnya hilang. Aturan ini dijaga ketat sampai sekarang sebagai bagian dari pakem tradisi.

4. Melala Hari Ini: Antara Pelestarian dan Tantangan

Minyak Sumbawa Melala sekarang dikenal sebagai obat tradisional untuk berbagai penyakit. Upaya pelestarian mulai dilakukan, Tujuannya mengenalkan Melala pada generasi muda sebagai siar budaya.

Antusiasme anak muda cukup tinggi karena memberi pengetahuan baru untuk mengembangkan budaya lokal. Tapi tantangannya sama seperti budaya lain: regenerasi Sandro, ketersediaan bahan hutan, dan minat anak muda yang tergerus budaya modern.

Sumbawa, “Pesta Babi Berikutnya”

Kegunaan Minyak Sumbawa “Melala” dalam Pengobatan Tradisional Tau Samawa

Sebelum puskesmas berdiri dan dokter jadi rujukan utama, masyarakat Sumbawa sudah punya “apotek hidup” sendiri: Minyak Sumbawa atau Melala. Minyak ini diracik turun-temurun oleh Sandro dan dipercaya sebagai obat segala penyakit, sekaligus penangkal hal-hal gaib seperti santet.

1. Sebagai Obat Segala Penyakit: Dari Luar dan Dalam

Karena itu, Melala digunakan masyarakat Sumbawa untuk obat segala penyakit. Secara tradisional, minyak ini biasa dipakai untuk:

A. Penyakit luar: Luka, lebam, keseleo, gigitan serangga, gatal-gatal, masuk angin. Caranya dioles atau diurut sambil dipijat.

B. Penyakit dalam: Sakit perut, kembung, demam. Ada Sandro yang meresepkan Melala untuk diminum sedikit atau dicampur air hangat.

C. Pemulihan ibu melahirkan: Dioles ke perut untuk menghangatkan dan mengembalikan kondisi tubuh.

D. Memperkuat daya tahan tubuh: Dipakai rutin sebagai “vitamin” versi tradisional, terutama untuk anak-anak dan orang tua.

Resep Melala adalah pengetahuan tradisional yang diwariskan nenek moyang, berdasarkan adat-istiadat, kepercayaan, dan kebiasaan setempat. Tiap Sandro punya racikan rahasia sesuai tujuan pengobatan.

2. Sebagai Penangkal Santet dan Gangguan Gaib

Fungsi Melala tidak berhenti di fisik. Dalam kepercayaan Tau Samawa, sakit tidak selalu datang dari kuman. Masyarakat dulu memakai Melala untuk:

A. Pagar diri: Dioles di ubun-ubun, telapak tangan, telapak kaki, dan pusar sebelum bepergian malam atau ke tempat angker.

B. Netralkan rumah: Dioles di kusen pintu dan jendela agar rumah terhindar dari ilmu hitam.

C. Pengobatan non-medis: Kalau ada orang sakit aneh yang tidak sembuh ke dokter, Sandro biasanya mengurut pakai Melala sambil baca doa untuk buang “penyakit kiriman”.

Pantangan perempuan menyentuh racikan juga terkait keyakinan ini. Dipercaya sentuhan perempuan bisa merusak santan hingga tidak jadi minyak dan khasiat penangkalnya hilang.

3. Melala Dulu dan Sekarang: Warisan yang Bertahan

Sebelum ada dokter, Sandro dan Melala nya adalah rujukan pertama masyarakat Sumbawa. Sekarang, meskipun layanan kesehatan modern sudah ada, Melala masih dipakai sebagai pendamping. Banyak keluarga di Sumbawa tetap menyimpan Melala di rumah untuk P3K versi tradisional.

Upaya pengenalan Melala_ke generasi muda juga sudah dilakukan lewat pendampingan Karang Taruna. Tujuannya agar minyak Sumbawa tidak punah dan tetap dikenal sebagai obat tradisional warisan leluhur.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page