Sumbawa Besar, Merdekainsight.com – Pemerintah Kabupaten Sumbawa mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax yang kini mencapai Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Kenaikan harga tersebut dinilai berpotensi mendorong sebagian pengguna kendaraan beralih ke BBM bersubsidi, khususnya Pertalite.
Kepala Bagian Ekonomi dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten Sumbawa, Ivan Indrajaya, mengatakan pemerintah daerah terus memantau kondisi tersebut guna memastikan distribusi BBM bersubsidi tetap berjalan normal.
“Memang perlu kita antisipasi terhadap kenaikan harga Pertamax, apalagi cukup signifikan. Dan memang tidak menutup kemungkinan para pengguna kendaraan yang sebelumnya menggunakan Pertamax akan beralih ke BBM bersubsidi yaitu Pertalite,” ujar Ivan saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (17/6/2026).

Meski demikian, Ivan menyebut kuota BBM bersubsidi yang dialokasikan untuk Kabupaten Sumbawa pada tahun 2026 masih mencukupi hingga akhir tahun. Kabupaten Sumbawa memperoleh kuota 39.122 kiloliter (KL) untuk jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu (JBT) Solar dan 55.835 KL untuk jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite.
“Kalau dilihat dari kuota kita yang telah ditentukan sampai bulan Desember, hal ini terlihat masih mencukupi. Tetapi untuk mengantisipasi, kita juga tetap berkoordinasi dengan pihak Pertamina,” katanya.
Untuk menjaga agar penyaluran BBM bersubsidi tetap tepat sasaran, Pertamina menerapkan sistem barcode bagi kendaraan mobil yang menggunakan Pertalite. Pemilik kendaraan harus terlebih dahulu mendaftarkan kendaraannya melalui aplikasi MyPertamina untuk mendapatkan akses pembelian.
“Melalui pengaturan yang telah diatur oleh Pertamina, penyaluran BBM bersubsidi jenis Pertalite untuk kendaraan mobil menggunakan barcode. Artinya, pengguna kendaraan harus mendaftarkan kendaraannya untuk mendapatkan barcode, sehingga ada batasan pengisian untuk satu kendaraan dalam menggunakan BBM bersubsidi,” jelasnya.
Menurut Ivan, sistem tersebut cukup efektif dalam mengendalikan penggunaan BBM bersubsidi karena hanya kendaraan yang memenuhi ketentuan yang dapat terdaftar dalam aplikasi.
“Sebenarnya penggunaan barcode ini juga tidak semua jenis mobil bisa. Jika memang tidak sesuai peruntukan untuk BBM subsidi, maka tidak akan diterima di dalam aplikasi MyPertamina. Makanya aplikasi ini sudah cukup presisi menurut kami untuk mengatur penggunaan kuota BBM bersubsidi oleh kendaraan bermobil,” ungkapnya.
Hingga saat ini, lanjut Ivan, kondisi distribusi BBM di Kabupaten Sumbawa masih stabil dan belum ada laporan dari SPBU terkait gangguan pasokan maupun potensi kelangkaan.
“Informasi sampai saat ini kondisi kita di Kabupaten Sumbawa masih dalam kondisi yang stabil dan memang belum ada juga laporan dari SPBU kepada kami. Kita berharap kondisi ini bisa terjaga dengan baik,” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa berharap ketersediaan BBM bersubsidi tetap terjaga sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi meskipun terjadi kenaikan harga BBM non-subsidi.






















Comment