Sumbawa Besar, Merdekainsight.com – Realisasi tanam padi dan palawija di Kabupaten Sumbawa selama lima bulan terakhir, periode Januari hingga Mei 2026, telah mencapai 71.852 hektare atau 98,06 persen dari target tanam tahun 2026 yang ditetapkan seluas 73.281 hektare. Dengan capaian tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa optimistis target tanam tahun ini dapat terlampaui.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ni Wayan Rusmawati, saat ditemui di kantornya, Rabu (17/6/2026), menjelaskan bahwa capaian tanam saat ini sudah mendekati target tahunan meskipun masih terdapat sisa periode tanam hingga September mendatang.
“Realisasi tanam padi dan palawija selama periode Januari sampai Mei 2026 mencapai 71.852 hektare dari target tanam tahun 2026 sebesar 73.281 hektare. Artinya, capaian kita sudah mencapai 98,06 persen. Dengan kondisi ini dan masih tersisanya waktu hingga September, mudah-mudahan realisasi tanam dapat melampaui target yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Menurutnya, target tanam tahun 2026 disusun berdasarkan capaian realisasi tahun sebelumnya. Pada tahun 2025, target tanam yang ditetapkan sebesar 70.000 hektare, namun realisasinya mencapai 73.281 hektare.
“Kalau melihat hasil tahun 2025, targetnya 70.000 hektare dan realisasinya mencapai 73.281 hektare. Realisasi tahun lalu itulah yang kemudian menjadi dasar target tanam tahun ini,” katanya.
Selain target tanam, Dinas Pertanian juga menargetkan pola panen padi dan palawija tahun 2026 yang tersebar di 24 kecamatan mencapai 87.557 hektare hingga September mendatang. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan target panen tahun 2025 yang mencapai 71.865 hektare.
Ni Wayan Rusmawati menilai terdapat beberapa faktor yang mendukung optimisme pencapaian target tersebut. Salah satunya adalah kondisi iklim yang dinilai cukup baik dan tidak menghambat aktivitas pertanian masyarakat.
“Tahun 2026 ini kita tidak terkendala iklim karena curah hujan cukup baik sehingga pertumbuhan tanaman petani relatif stabil. Bahkan terjadi pergeseran musim hujan yang cukup signifikan, di mana pada April dan Mei masih turun hujan,” jelasnya.
Selain faktor iklim, kondisi harga komoditas pertanian juga dinilai memberikan motivasi bagi petani untuk terus melakukan penanaman. Harga padi maupun jagung saat ini disebut berada di atas Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas).
“Kalau melihat dari segi harga, baik padi maupun jagung sudah berada di atas HAP yang ditentukan Bapanas. Bahkan harga gabah mendekati Rp8.000 per kilogram, sehingga kondisi ini tentu memberikan semangat bagi petani untuk terus berproduksi,” ungkapnya.
Optimisme Dinas Pertanian juga didukung berbagai program bantuan dari Kementerian Pertanian yang diberikan kepada kelompok tani melalui pola swakelola. Melalui mekanisme tersebut, bantuan langsung masuk ke rekening kelompok tani dan dikelola secara mandiri oleh penerima manfaat.
Adapun bantuan yang diterima kelompok tani meliputi Irigasi Perpompaan (IRPOM), Optimalisasi Lahan (OPLAH), perpipaan, pembangunan cek dam embung, serta jaringan irigasi.
“Bantuan dari Kementerian Pertanian kepada kelompok tani bersifat swakelola, sehingga dana langsung masuk ke rekening kelompok dan dikelola sendiri oleh penerima. Bantuan tersebut meliputi IRPOM, OPLAH, perpipaan, pembangunan cek dam embung, dan jaringan irigasi,” terangnya.
Ia menegaskan, kondisi iklim yang mendukung, harga komoditas yang menguntungkan petani, serta berbagai bantuan pemerintah menjadi faktor utama yang mendorong optimisme pencapaian target tanam dan panen tahun 2026.
“Dengan kondisi iklim yang baik dan adanya dukungan program dari Kementerian Pertanian, kami sangat optimistis target tanam tahun 2026 dapat terlampaui, sementara target panen hingga September juga dapat tercapai sesuai yang direncanakan,” pungkasnya.






















Comment